Cerita dan Checklist Trimester Pertama sebagai Ekspat

Setelah satu setengah tahun pertama pernikahan memutuskan untuk tidak punya anak dulu, akhirnya awal tahun ini saya dan suami mendapat berkat kehamilan pertama. Jauh dari keluarga, dari teman-teman dekat yang sudah lebih dulu punya anak, dan di negara yang sistem kesehatannya masih asing bagi saya, saya jadi terdorong untuk menuliskan pengalaman kehamilan pertama saya di blog. Siapa tahu ada yang sedang atau akan mengalami kondisi yang serupa. Mudah-mudahan pengalaman saya bisa menjadi tambahan sudut pandang apa yang diantisipasi saat menjalani trimester pertama di negeri asing.

Awal kehamilan seiring awal Covid-19 di Eropa

Di minggu yang sama saya mencoba tes kehamilan, kantor saya mengumumkan anjuran untuk kerja dari rumah bagi pegawai yang merasa tidak nyaman untuk datang ke kantor. Saat itu, Italia baru mulai menjalani lockdown di daerah Lombardia, dan Swiss mulai memberitakan kasus pertama Covid-19 di negaranya.

Karena di saat bersamaan saya sering merasa tidak enak badan (usut punya usut ini ternyata karena saat itu sudah hamil), saya memutuskan untuk langsung kerja dari rumah. Minggu berikutnya, kantor malah mengumumkan wajib kerja dari rumah untuk setiap pegawainya.

Setelah tes kehamilan, saya langsung menghubungi dokter urusan kewanitaan dan kebidanan / ginekolog saya. Sejak memasuki usia 30 tahun, saya rutin periksa tahunan ke ginekolog, jadi sudah tidak khawatir mencari-cari dokter yang bagus untuk mendampingi masa kehamilan saya.

Menurut kantor ginekolog saya, cek kehamilan pertama biasanya dilakukan paling cepat di minggu kedelapan kehamilan (terhitung dari tanggal menstruasi terakhir). Karena situasi Covid-19, dokter hanya menerima pasien cek kehamilan, dan pasien hanya boleh datang sendiri. Suami atau pendamping tidak boleh masuk ke dalam praktek ginekolog.

Kasihan suami, tidak bisa ikut merasakan pengalaman ultrasound, melihat siluet janin kecil tampil dengan jelas di layar monitor dokter. Pun suami tidak bisa ikut mendengarkan bunyi detak jantung janin ketika dokter memperdengarkannya lewat speaker.

Sampai saat saya menulis blog ini, suami masih belum bisa ikut ke dalam praktek ginekolog setiap saya cek kehamilan. Untungnya, setiap cek kehamilan, dokter selalu memberikan print out dan softcopy hasil ultrasound untuk dibawa pulang. Mudah-mudahan sebelum saatnya melahirkan suami bisa ikut paling tidak sekali ke dalam ruang praktek ginekolog. Kami sama-sama geek teknologi visual (saya dulu kerja di bidang multimedia, dan suami di bidang grafik komputer), jadi rasanya puas banget lihat kualitas tinggi visualisasi ultrasound dan 3D ultrasound di layar dokter. Ngga sama sensasinya dengan lihat print out saja. :D

Cakupan Asuransi

Di cek kehamilan pertama, dokter saya menjelaskan semua jenis tes dan cek rutin yang harus dijalankan selama kehamilan, serta apa saja yang ditanggung asuransi dasar di Swiss.

Di Swiss, setiap orang wajib mempunyai asuransi kesehatan dasar, yang kemudian bisa dilengkapi dengan asuransi suplemen sesuai kebutuhan dan kemampuan masing-masing orang. Asuransi dasar di Swiss menanggung semua cek rutin dan tes wajib bagi ibu hamil, termasuk dua kali ultrasound, dan semua pengeluaran saat proses melahirkan di rumah sakit tertentu.

Saya hobi melakukan financial planning, jadi setelah mendapat semua informasi dari ginekolog, salah satu hal yang langsung saya lakukan adalah menelaah kembali polis asuransi saya untuk memeriksa apa saja yang ditanggung selain tanggungan dasar, dan apa fasilitas tambahan yang bisa saya tanggung sendiri. Dengan begini, saya bisa mendapat gambaran besar pengeluaran yang harus saya dan suami persiapkan. Ngga mau kan, stress di tengah-tengah kehamilan karena dapat tagihan fasilitas yang ternyata tidak ditanggung asuransi. Sebagai contoh, kami memilih untuk mendapat ultrasound setiap cek kehamilan, karena meskipun tidak ditanggung asuransi dasar, harga fasilitas tambahan ultrasound masih masuk dalam budget kami.

It’s okay to feel horrible and be honest about it

Kehamilan setiap orang berbeda-beda. Ada orang-orang yang ngga merasakan apa-apa di trimester pertama, sampai-sampai mereka baru ngeh kalau hamil di bulan keempat atau kelima. Ada yang trimester pertamanya bikin pengen nyumpahin alam semesta. Ada yang di tengah-tengah. Trimester pertama saya kemarin termasuk kategori yang kedua.

Tidak hanya lemas dan capek berkepanjangan, saya juga mengalami mual sepanjang hari, perut yang selalu terasa seperti kembung, dan mood yang lebih sering turun daripada naik. Saya ngga bisa olahraga seperti biasa. Teh hangat yang biasanya jadi minuman saya sehari-hari bikin ingin muntah. Saya juga jadi merasa kurang produktif saat bekerja, padahal banyak hal yang harus diselesaikan.

Sangking ngga enaknya kondisi saya saat itu, saya sampai tidak merasa senang sama sekali dengan kehamilan saya. Saya sempat merasakan dilema karena di satu sisi kesannya kok seperti tidak bersyukur. Apalagi kalau baca artikel-artikel atau dengar pengalaman orang-orang tentang kehamilan, lazimnya yang diceritakan adalah betapa indahnya menjadi seorang ibu.

Nyatanya, banyak kok yang merasakan trimester pertama yang sulit, bahkan kadang sampai keseluruhan kehamilan. Hanya saja tidak banyak yang membicarakannya – apalagi karena di trimester pertama, biasanya orang-orang masih tidak memberitakan kehamilannya. Salah satu momen yang membuat saya merasa baikan di tengah pergumulan saya adalah ketika menemukan blog yang ditulis seorang ibu hamil di tahun 2016 berjudul “I hate my pregnancy and I’m not apologizing for it.”

Sama seperti baby blues yang dialami sebagian ibu setelah melahirkan, saya rasa kondisi trimester pertama atau kehamilan yang sulit harus kita bicarakan dengan terbuka. Trimester pertama adalah masa yang sensitif karena resiko keguguran tinggi. Di tengah tekanan mental untuk menjaga kesehatan, rasanya benar-benar tidak enak harus menghadapi tambahan beban pikiran bahwa kita ‘tidak normal’ atau ‘kurang bersyukur’ karena frustrasi dengan perubahan ekstrim kondisi badan dan tidak merasa bahwa kehamilan itu indah. Trimester pertama bagi sebagian orang bisa terasa seperti penderitaan tiada akhir, dan tidak semua orang bisa selalu positif saat harus menahan rasa sakit dan tidak nyaman.

If you are having a hard first trimester that you don’t feel happy about your pregnancy, don’t be so hard on yourself. You’re not alone. Nothing’s wrong with you. You can still feel excited about your baby afterwards. It’s okay. Society is wrong for giving us romanticized ideas about pregnancy and motherhood. It’s not romantic, and it doesn’t have to be.

Cari sumber informasi yang bisa dipercaya

Meskipun jauh dari keluarga dan teman-teman dekat, untungnya teknologi saat ini memungkinkan untuk berkomunikasi dengan mudah kapan saja dari mana saja. Selain bertanya langsung pada dokter, orangtua, atau teman-teman ketika penasaran tentang hal-hal tertentu, saya juga sering mengacu pada situs atau app yang mereka rekomendasikan. Berikut situs dan app yang saya ikuti untuk informasi umum: What to Expect, Pregnancy+, Healthline, Swiss Mom (spesifik Swiss, tidak dalam bahasa Inggris).

Untuk hal-hal yang bersifat lokal (seperti rekomendasi rumah sakit tempat bersalin, tanggungan asuransi, subsidi pemerintah lokal untuk anak-anak, dsb), saya biasanya mengunjungi forum-forum lokal ekspat (misalnya englishforum.ch untuk Swiss) dan situs pemerintah lokal (ch.ch untuk Swiss).

Checklist Trimester Pertama

  • Pilih dokter kandungan (jika belum punya)
  • Periksa kembali apa saja tanggungan asuransi untuk ibu hamil sampai persalinan
  • Rencanakan budget dengan pasangan
  • Beli/pinjam buku tentang kehamilan, atau bookmark situs informasi kehamilan terpercaya
  • Pelajari pantangan saat hamil, seperti makanan, minuman, restriksi olahraga, pijat, sauna, dsb.
  • Banyak istirahat dan jaga kesehatan!


2 thoughts on “Cerita dan Checklist Trimester Pertama sebagai Ekspat

Tinggalkan Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.