Solo Traveling ala Extrovert yang “Mager”

Tips planning perjalanan solo.

Akhirnya awal tahun ini, saya punya kesempatan ke Jepang untuk liburan. Senang, karena Jepang udah lama jadi bagian dari wishlist negara yang ingin saya kunjungi, tapi juga anxious karena saya harus liburan sendiri (suami ngga dapat cuti). Saya lumayan sering business trip yang mengharuskan mengunjungi kota atau negara lain sendirian, tapi saya belum pernah liburan yang sepenuhnya sendirian. Jangankan liburan, jalan-jalan sendiri deket rumah kalau lagi weekend aja males. Hahaha.

Mungkin karena kepribadian saya, saya merasa jalan-jalan sendiri itu membosankan. Ngga ada temen ngobrol, apa coba yang mau dikerjain? Liat-liat, satu jam juga selesai. :)) Karena tahu diri, tiap kali saya harus berpergian sendiri, saya benar-benar planning apa yang mau dikerjakan supaya ngga bosan.

Pertama, kalau mengunjungi landmark, sebisa mungkin saya masuk dan belajar sesuatu. Gedung atau monumen cantik tanpa konteks buat saya membosankan, apalagi saya ngga ngerti arsitektur. Selain itu, kalau hanya datang untuk lihat landmark dan dijadiin background selfie, setengah jam juga cukup. Abis itu ngapain? :))

Beberapa tempat wisata menawarkan brosur gratis di pintu masuk. Kalau ngga mau bayar lebih buat audio guide, paling ngga saya ambil satu brosur untuk baca apa pentingnya tempat tersebut. Salah satu tempat yang saya ingat banget zong-nya kalau ngga ada guide adalah Roman Forum di Roma. That place is literally a park with a lot of (historical) stones. Kalau ngga tahu batu yang dilihat itu dulu bagian dari pasar, atau bagian dari rumah ibadah, rasanya rugi bayar tiket masuk. :))Ada juga tempat wisata yang malah menawarkan guided tour gratis kalau sudah bayar tiket masuk. Yang dekat-dekat contohnya Rumah Tjong Afi di Medan, dan yang jauh contohnya Sao Jorge Castle di Lisbon.

Kalau budget mengijinkan, saya suka cari kegiatan yang bisa diikuti via AirBnB atau TripAdvisor. Tahun lalu, waktu lagi sendirian di Seoul abis ada kerjaan, saya iseng ikut kelas memasak. Tergantung harga, ikut kegiatan begini bisa jadi pengalaman yang worth it sih. Saya jadi ketemu dan ngobrol sama orang-orang yang juga traveling, sambil belajar sesuatu (atau makan :)) ). Via AirBnB, kita bisa cari kegiatan lewat menu search “Experiences”. Kalau di TripAdvisor cari menu “Things to do”. Kemarin waktu ke Jepang misalnya, ada opsi untuk ikut tea ceremony, meditasi atau coba kimono sekalian berfoto. Saran saya sih book kegiatan-kegiatan ini ngga perlu jauh-jauh hari, karena kadang hanya bisa di-cancel free maksimal 72 jam sebelum hari H.

Cari teman yang tinggal di kota atau daerah yang dikunjungi, trus ajak ketemuan deh. Paling ngga jadi ada teman makan, kalau ketemuan buat makan sambil ngobrol :))

Satu lagi hal yang membantu saya planning solo travel, saya bikin resolusi pribadi selama perjalanan. Contohnya, waktu di Jepang kemarin, resolusi “sambil jalan” saya adalah belajar fotografi dan menyelesaikan tulisan untuk sebuah buku. Jadi ketika jalan sendiri, saya ngga bengong, karena pikiran saya jadi sibuk cari inspirasi foto atau tulisan. Tiap orang beda-beda, jadi buat orang lain bisa aja resolusinya ngelatih skill bahasa Inggris atau bahasa lokal, banyak-banyak jalan kaki mumpung udara negara yang dikunjungi bebas polusi :p, dll.

Kesannya ribet banget ya, mau jalan-jalan sendiri aja banyak banget yang dipikirin. Well, kalau tahu kelemahan diri sendiri (dalam hal ini saya mager-an), alangkah baiknya disiasati supaya hidup jadi lebih baik. Halah.

-E.

 

 


Tinggalkan Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.