Lanjut S3 Ngga Ya?

Saya sering mendapat pertanyaan dari teman-teman yang sedang atau baru menyelesaikan studi S2 mereka tentang perlu tidaknya melanjutkan studi ke jenjang S3.

Ketika kelulusan S2 saya semakin mendekat lima tahun lalu, saya termotivasi untuk melanjutkan S3 karena dua hal. Pertama, saat itu saya ingin melanjutkan karir sebagai dosen. Motivasi saya yang kedua, pengalaman riset di lab tempat saya S2 membuat saya ingin meneruskan melakukan riset.

Setelah menjalani program S3, saya menyadari ada hal-hal lain yang perlu dipertimbangkan ketika hendak memutuskan melanjutkan studi ke jenjang S3 atau tidak. Berikut empat hal yang menurut saya perlu dipikirkan sebelum mengambil keputusan.

Pertimbangan pertama: karir saat ini dan proyeksi karir ke depannya.

Bagi saya, memutuskan lanjut S3 tidak sulit, karena saya toh ingin menjadi dosen (lima tahun lalu). Jujur saja, sebagai orang Indonesia, tidak banyak pilihan karir jenjang S3 yang saya tahu selain dosen, atau bekerja di lembaga riset (ini yang saya tahu. Mohon pencerahannya kalau kondisi sudah berubah).

Setelah saya menjalani program S3 saya di Belanda, saya menyadari bahwa banyak kesempatan bekerja lain bagi lulusan S3. Ini tentu saja dengan konsekuensi saya harus tinggal di Belanda atau Eropa, dan tidak pulang ke Indonesia. Berhubung saya tidak terikat apapun (kontrak kerja maupun kontrak nikah) saat sedang menjalani S3, ini tidak menjadi masalah bagi saya. Jika rekan-rekan ingin kembali ke Indonesia, mungkin ini akan menjadi masalah.

Pertimbangan kedua: bidang ilmu.

Kebetulan bidang ilmu yang saya tekuni (Teknik Informatika) mempunyai banyak peluang industri bagi lulusan S3 (di luar Indonesia). Mungkin tidak semua bidang ilmu mempunyai kesempatan yang sama. Yang saya tahu, bidang ilmu seperti teknik kimia, bioinformatika, mikrobiologi, kimia, dan teman-temannya juga mempunyai peluang industri yang cukup besar bagi lulusan S3.

Rekan-rekan yang mempunyai bidang ilmu lain, dapat mencari informasi dengan melihat peluang atau lowongan kerja yang ada saat ini apakah sudah banyak yang menerima lulusan S3.

Pertimbangan ketiga: kesiapan mental.

S3 merupakan program empat sampai lima tahun (beberapa negara dan bidang ilmu menjanjikan tiga tahun, tapi let’s face it, kadang realita tidak sejalan dengan ekspektasi). Intinya, lama waktu S3 minimal sama dengan lama waktu S1. Bedanya, ketika S3, tidak ada struktur semester dan SKS seperti di S1 dan S2, yang bisa kita jadikan patokan waktu dan pencapaian akademis kita. Tak jarang proyek riset yang kita rencanakan ternyata tidak berjalan sesuai harapan, dan kita harus bisa menjalankan Plan B atau bahkan mengganti topik. Seringkali pula, kita diberi proyek riset yang sifatnya independen/individu, sehingga jalan dan kemajuannya bergantung pada kemampuan kita memotivasi diri kita sendiri jika menghadapi masalah.

Jika Anda tipe yang tidak suka bekerja sendiri, atau sulit fleksibel saat menghadapi ketidakpastian, mungkin S3 akan lebih susah untuk dinikmati.

Pertimbangan keempat: keuangan.

Beda negara dan universitas, bisa beda kebijakan finansialnya terkait menerima mahasiswa S3. Umumnya di negara Eropa Barat, seperti Belanda, mahasiswa S3 mempunyai status pegawai kampus dan diberikan kontrak kerja empat tahun dengan cuti, pensiun, bonus tahunan dan kewajiban pajak layaknya pegawai biasa. Ketika saya menyelesaikan S2 di Taiwan, profesor saya menjanjikan allowance bulanan bagi mahasiswa yang melakukan riset S3 di lab atau grupnya. Di lain tempat, seperti Amerika Serikat, terkadang mahasiswa S3 diwajibkan untuk mengajar kuliah jika ingin mendapatkan gaji. Selain itu, tentu saja kita juga bisa menjalani S3 dengan grant atau beasiswa dari lembaga di luar universitas.

Ada baiknya Anda mencari tahu tentang kebijakan lab atau grup yang Anda tuju terkait pendanaan riset S3. Bisa jadi, profesor yang ingin Anda jadikan pembimbing sedang tidak mempunyai dana untuk membiayai gaji atau allowance Anda, tapi tidak keberatan menerima Anda jika membawa beasiswa sendiri.

Itulah empat hal utama yang menurut saya perlu dipikirkan sebelum memutuskan melanjutkan S3. Rekan-rekan yang sedang atau sudah S3, ada tambahan lain? :D

-E.


2 thoughts on “Lanjut S3 Ngga Ya?

  1. Motivasi. S3 is a difficult journey to go through without solid motivation. Jadi, kalo S3 karena ga ada kerjaan yang lain, mending ga usah. XD

Leave a Reply to ndrewh Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.